Alkisah, di sebuah planet yang agak mirip Bumi tapi dengan gravitasi yang sedikit lebih rendah sehingga topi sering beterbangan, hiduplah dua entitas bernama Manusia-A-Individu dan Manusia-B-Lingkungan. Mereka bukan kembar, tapi sering kali disalahpahami sebagai satu kesatuan.
Manusia-A-Individu, atau yang akrab disapa "M.A.I." (yang selalu protes karena namanya terdengar seperti singkatan merek deterjen), adalah seorang pemikir ulung. Ia punya rambut acak-acakan yang seolah menyimpan semua ide di dunia, kacamata yang selalu melorot, dan kebiasaan menggaruk dagu saat sedang merenung. M.A.I. percaya bahwa ia adalah pusat alam semesta—setidaknya, alam semesta di dalam kepalanya. "Aku berpikir, maka aku ada!" serunya suatu pagi, sambil mencoba menyeimbangkan sesendok sereal di hidungnya. "Tapi apakah serealku ada jika aku tidak memakannya?"
Sementara itu, Manusia-B-Lingkungan, atau "M.B.L." (yang selalu mengeluh karena namanya terdengar seperti singkatan lembaga survei), adalah entitas yang lebih besar, lebih meluas, dan jujur saja, sedikit lebih berantakan. Ia bukan satu orang, melainkan jutaan. Ia adalah semua jalanan berlubang, semua gedung pencakar langit yang menjulang angkuh, semua taman kota yang wanginya kadang tercampur bau knalpot, dan semua sistem pembuangan limbah yang diam-diam bekerja keras di balik layar. M.B.L. tidak punya rambut, tapi punya hutan. Tidak punya kacamata, tapi punya jendela-jendela kota yang tak terhitung jumlahnya. Dan kebiasaannya? Selalu sibuk membangun sesuatu—atau merobohkan sesuatu untuk membangun yang lain.
Suatu hari, M.A.I. sedang mencoba memahami hakikat kebahagiaan sambil duduk di bangku taman. "Kebahagiaan," gumamnya, "adalah seperti kupu-kupu. Semakin kau kejar, semakin ia menjauh. Tapi jika kau diam..."
Tiba-tiba, suara riuh mesin buldoser memotong kalimatnya. M.B.L. sedang dalam proses membangun pusat perbelanjaan baru tepat di samping taman. Tanah bergetar, debu beterbangan, dan salah satu kupu-kupu yang M.A.I. harapkan hinggap di bahunya malah terbang menjauh dengan panik.
"Hei!" teriak M.A.I., "Bisakah kalian sedikit lebih tenang? Aku sedang mencoba menemukan pencerahan di sini!"
Dari kejauhan, salah satu bagian dari M.B.L. (seorang pekerja konstruksi dengan helm kuning cerah) melambaikan tangan. "Maaf, Bos! Ini demi kemajuan! Kita butuh lebih banyak tempat untuk orang-orang seperti Anda membeli hal-hal yang membuat Anda bahagia!"
M.A.I. terdiam sejenak. "Membeli hal-hal yang membuatku bahagia? Tapi kebahagiaan sejati tidak bisa dibeli! Itu datang dari..." Ia melirik ke sekeliling, pada pohon-pohon yang kini tertutup lapisan debu tipis. "...dari harmoni dengan alam, dari refleksi diri, dari secangkir kopi yang sempurna di pagi hari!"
M.B.L., melalui suara sirene ambulans yang melintas dan percakapan ponsel yang terdengar samar dari kafe terdekat, seolah menjawab, "Tapi Anda butuh jalan untuk pergi ke kedai kopi itu, kan? Anda butuh listrik untuk memanaskan air, kan? Anda butuh internet untuk mencari tahu cara membuat kopi sempurna, kan? Itu semua aku!"
M.A.I. menghela napas. Ia mulai menyadari bahwa ia dan M.B.L. adalah dua sisi mata uang yang sama, meskipun kadang bergesekan. Ia adalah pemikir tunggal yang ingin menemukan makna, sementara M.B.L. adalah jaring raksasa yang menyediakan panggung—baik itu panggung drama kehidupan atau panggung konser musik metal—tempat M.A.I. beraksi.
"Jadi," pikir M.A.I., sambil menyandarkan kepalanya ke belakang dan membiarkan topi petnya jatuh, "aku adalah melodi, dan dia adalah orkestra. Aku adalah novel, dan dia adalah perpustakaan. Aku adalah teka-teki, dan dia... yah, dia adalah meja tempat teka-teki itu diselesaikan, lengkap dengan sisa remahan kue."
Ia tersenyum kecut. "Mungkin kita berdua sama-sama konyol, tapi setidaknya kita saling membutuhkan."
Dan di tengah hiruk pikuk kota yang terus tumbuh, di bawah langit yang mulai dihiasi awan-awan hasil uap pabrik, Manusia-A-Individu akhirnya menemukan pencerahannya: Bahwa kebahagiaan mungkin adalah kupu-kupu, tapi kadang kupu-kupu itu butuh taman yang dibuat oleh Manusia-B-Lingkungan untuk bisa hinggap. Dan kadang, taman itu sendiri perlu sedikit dirapikan dari waktu ke waktu.
Karena pada akhirnya, baik sang individu yang merenung atau tata lingkungan yang tak henti bergerak, keduanya adalah bagian dari sebuah tarian kosmik yang absurd, indah, dan kadang-kadang, sangat berdebu.

No comments:
Post a Comment