MERAH MUDA
Dini hari waktu 00:00 aku mengirimkan gambar berwarna merah muda yang berisikan ucapan selamat kepadanya. Tak selang berapa lama terhitung tujuh belas menit, ia pun melihatnya entah kenapa ia masih terjaga. Mungkin sedang menunggu waktu untuk hari istimewanya.
Aku yakin aku tak bernama di kontak halamannya, hanya deretan angka di kotak percakapannya. Mungkin dia bingung aku ini siapa dan langsung menghapusnya. Harapan besar menanti balasannya namun tak urung jua aku mendapatinya. Walaupun begitu aku berterima kasih kepadanya bahwa berkat wajah dan auranya aku melewati bulan itu dengan mulai menuliskannya.
Ke esokan harinya berjalan seperti biasa masih dengan warna yang sama merah muda yang tak mengurangi rasa syukur kepada-Nya.
Aku masih teringat kejadian semalam. Entah bisikan dari siapa aku pun tidak paham, kenapa aku berinisiatif untuknya dan berani melakukannya. Yang aku percaya hanyalah Dia Sang Penguasa segalanya. Betapa indah bidadari putri terakhirnya yang senantiasa menjaga jiwa raga dan rutin merawatnya.
Hanya doa terbaik yang bisa aku berikan kepadanya, bukan mendoa untuk hidup bersama namun menyambungkannya dalam ikhtiar yang berbeda. Mungkin semua bisa menjadi tonggak kebebasan untuk mengawali apa yang belum pernah aku lakukan dengan mencatat nota - nota kata di setiap harinya. Atau akan menjadi energi tambahan untuk sebuah harapan. Semoga Tuhan menyertai langkahnya.