Di sebuah negeri yang tidak ada dalam peta, hiduplah dua konsep cinta yang sangat unik, atau lebih tepatnya, sangat menyebalkan. Ada "Komunisme Cinta yang Dipaksakan" dan "Sosialisme Cinta Palsu."
Komunisme Cinta yang Dipaksakan, dipimpin oleh Jenderal Hati Besi, percaya bahwa semua orang harus mencintai semua orang, tanpa kecuali, dan tanpa bertanya. "Cinta itu seperti jatah makanan!" teriak Jenderal Hati Besi dalam pidato tahunannya. "Setiap warga negara akan menerima porsi cinta yang sama, tidak lebih tidak kurang! Dan jika ada yang tidak merasa cinta? Itu adalah pengkhianatan emosional!"
Di bawah rezimnya, setiap pagi, para warga harus berkumpul di alun-alun dan memeluk orang asing selama lima menit, sambil memandangi poster besar yang bertuliskan "CINTAI SAUDARAMU SEPERTI NEGARAMU (ATAU MASUK PENJARA HATI)". Bayangkan saja, Anda sedang malas-malasan, ingin menikmati kopi pagi, tapi tiba-tiba harus memeluk Pak Budi dari departemen pajak yang terkenal suka bersendawa bawang putih.
Bahkan kencan diatur oleh pemerintah. Anda bisa saja dijodohkan dengan seseorang hanya karena statistik menunjukkan bahwa tingkat kebahagiaan Anda harus sama dengan tingkat kebahagiaan orang tersebut. Pernikahan menjadi semacam proyek infrastruktur nasional, di mana keintiman diawasi dan diukur dengan cermat. "Apakah Anda mencapai kuota ciuman mingguan Anda, Saudara Anto?" tanya seorang inspektur cinta. "Jika tidak, kami akan mengirimkan tim konselor cinta untuk membantu Anda mencapai potensi Anda."
Sementara itu, di perbatasan, hiduplah negara Sosialis Cinta Palsu, yang dipimpin oleh Permaisuri Senyum Plastik. Di sini, tidak ada yang dipaksa. Oh, tidak! Di Sosialis Cinta Palsu, cinta adalah pilihan... selama pilihan itu membuat Anda terlihat baik di depan umum.
Di Sosialis Cinta Palsu, semua orang tersenyum. Selalu. Bahkan ketika mereka baru saja menendang kucing kesayangan mereka secara tidak sengaja. Mereka akan tersenyum dan berkata, "Oh, betapa indahnya hari ini untuk mencintai! Bukankah begitu, teman-teman?" Di balik senyuman itu, ada kekosongan yang hampa. Mereka saling mengirim kartu ucapan yang sangat manis, tapi di dalamnya tertulis, "Semoga kamu bahagia, karena jika tidak, itu akan mengurangi indeks kebahagiaan nasional kita."
Kencan diatur melalui aplikasi bernama "LoveMetrics," yang mencocokkan Anda bukan berdasarkan kecocokan sejati, melainkan berdasarkan potensi Anda untuk menampilkan kebahagiaan di media sosial. Pasangan-pasangan akan berpose untuk foto-foto romantis di tempat-tempat indah, memegang tangan erat-erat, dengan senyum lima jari yang sama.
Di dalam hati, mereka mungkin bertanya-tanya mengapa mereka merasa lebih terhubung dengan sepatu baru mereka daripada dengan pasangan mereka.
Suatu hari, seorang filsuf pengembara bernama Pipit, yang selalu membawa termos teh herbal dan syal wol yang compang-camping, tiba di perbatasan antara dua negara itu. Dia mengamati warga Komunisme Cinta yang Dipaksakan yang tampak tertekan karena harus mencintai, dan warga Sosialis Cinta Palsu yang tampak terlalu ceria hingga menyeramkan.
Pipit berpikir, "Lucu sekali. Di satu sisi, mereka mencampurkan cinta dengan kerja rodi. Di sisi lain, mereka mencampurkan cinta dengan pencitraan. Keduanya sama-sama melenceng dari esensi sejati cinta."
Dia kemudian mendekati seorang warga Komunisme Cinta yang sedang bersembunyi di balik semak-semak, menghindari sesi pelukan pagi. "Mengapa Anda bersembunyi, Saudara?" tanya Pipit.
Warga itu menghela napas. "Saya tidak punya energi untuk mencintai Bu Siti hari ini. Dia selalu menceritakan tentang koleksi patung kurcaci kebunnya, dan itu membuat saya ingin... kabur."
Kemudian, Pipit berbicara dengan seorang warga Sosialis Cinta Palsu yang sedang mengambil swafoto sambil memegang tangan pasangannya. "Apakah Anda bahagia?" tanya Pipit.
Warga itu tersenyum lebar. "Tentu saja! Lihat senyum kami! Indeks kebahagiaan kami sempurna!" Tapi ada kerlipan kesedihan di matanya yang cepat disembunyikan oleh senyum yang terlalu lebar itu.
Pipit menyadari bahwa baik cinta yang dipaksakan maupun cinta palsu sama-sama gagal memahami bahwa cinta sejati bukanlah kewajiban yang diturunkan dari atas, atau pertunjukan untuk khalayak. Cinta sejati adalah kekacauan yang indah, kadang cerah, kadang gelap, kadang canggung, kadang jenaka, dan yang paling penting, tulus.
"Cinta," kata Pipit pada dirinya sendiri sambil menyesap teh herbalnya, "seharusnya bukan urusan pemerintah atau urusan panggung. Cinta itu seperti kentut. Kamu tidak bisa memaksanya keluar kalau tidak ingin, dan kamu tidak bisa berpura-pura tidak terjadi kalau sudah terjadi."

No comments:
Post a Comment