Di suatu alam semesta yang bukan alam semesta kita, namun cukup mirip untuk kita bayangkan, hiduplah Sang Nabi. Bukan Nabi yang kita kenal dari kitab-kitab suci, melainkan Nabi dari Absurditas dan Kontemplasi yang Mendalam. Taman Sang Nabi bukanlah hamparan bunga-bunga biasa, melainkan sebuah lanskap pikiran yang termanifestasi.
Pintu masuk ke taman ini adalah sebuah gerbang yang terbuat dari ironi. Di atasnya terukir kalimat, "Masuklah, dan tinggalkan semua prasangka… kecuali prasangka bahwa ini akan jadi aneh." Begitu Anda melangkah masuk, Anda akan disambut oleh deretan pohon kebijaksanaan yang buahnya berupa pertanyaan retoris. Memetik satu buah berarti Anda harus bergulat dengan eksistensi selama setidaknya 30 menit atau sampai Anda menyerah dan mengganti topik. Sang Nabi pernah mencoba membuat jus dari buah ini, namun yang ia dapat hanyalah krisis identitas cair.
Di tengah taman, mengalir sebuah sungai kecil bernama Sungai Paradoks. Airnya jernih, namun jika Anda mencoba meminumnya, rasanya akan manis dan pahit secara bersamaan, dan Anda akan merasa haus sekaligus kenyang. Konon, Sang Nabi sering duduk di tepi sungai ini, mencoba menangkap ikan yang berenang maju mundur secara simultan. "Mereka adalah metafora hidup!" serunya suatu ketika, lalu terjatuh karena tergulir oleh seekor ikan sarden yang mengklaim dirinya adalah paus.
Ada pula kebun bunga mawar yang mekar di bawah sinar rembulan yang berbentuk segitiga. Mawar-mawar ini tidak hanya indah, tetapi juga berbisik. Bisikannya bukan tentang cinta atau kecantikan, melainkan tentang teori relativitas dan mengapa kaus kaki selalu hilang satu saat dicuci. Sang Nabi sering terlihat berjongkok di antara mereka, berdiskusi sengit dengan sekuntum mawar merah tentang perbedaan antara kebenaran absolut dan kebenaran yang kebetulan. "Tapi bagaimana jika kebenaran yang kebetulan itu secara kebetulan adalah kebenaran absolut?" Sang Nabi pernah bertanya, dan mawar itu hanya menggoyangkan kelopaknya, seolah menghela napas.
Di sudut terjauh taman, tersembunyi sebuah patung. Bukan patung pahlawan atau dewa, melainkan patung sebuah ide yang terlupakan. Patung itu terbuat dari hembusan napas terakhir dari sebuah lelucon filosofis yang terlalu kompleks. Setiap kali Sang Nabi lewat, ia akan menepuk-nepuk patung itu, seolah menyemangati. "Jangan khawatir, Nak," katanya, "suatu hari nanti seseorang akan mengerti kamu."
Hewan-hewan di Taman Sang Nabi juga unik. Ada burung hantu yang hanya berkicau di siang hari dan seekor domba yang memiliki tanduk spiral, yang katanya adalah manifestasi visual dari spiral Fibonacci yang mencoba meraih pencerahan. Suatu kali, domba itu mencoba memberi Sang Nabi pelajaran tentang metafisika sambil mengunyah rumput, dan Sang Nabi dengan sabar mendengarkan, meskipun ia tahu domba itu hanya mengulang apa yang ia dengar dari buku audio Sang Nabi sendiri.
Setiap malam, Sang Nabi akan berjalan-jalan di tamannya, ditemani oleh lentera yang menyala dengan api dari keraguan. Ia akan berhenti di setiap sudut, merenungkan setiap keanehan, dan sesekali tertawa sendiri. "Ah, taman ini," gumamnya suatu malam, sambil menunjuk ke arah gumpalan awan yang berbentuk tanda tanya besar, "adalah cermin dari kekacauan indah dalam pikiran kita. Dan terkadang, cara terbaik untuk memahami kekacauan itu adalah dengan menanamnya di taman dan membiarkannya tumbuh liar."
Dan begitulah, Sang Nabi terus menjaga tamannya, sebuah surga bagi pikiran yang penasaran, tempat di mana filosofi tidak hanya dipelajari, tetapi juga tumbuh, mekar, dan sesekali, membuat Anda tersandung pada sebuah kesimpulan yang sama sekali tidak Anda duga. Ini dia visualisasi dari Taman Sang Nabi!

No comments:
Post a Comment