Thursday, November 20, 2025

Keragaman Kehendak

Di suatu alam yang tidak terlalu jauh, di mana kabut eksistensi seringkali lebih tebal daripada sup kacang polong pada hari Selasa yang dingin, hiduplah seorang filsuf eksentrik bernama Prof. Penny Puddifoot. Prof. Penny percaya bahwa setiap manusia dilahirkan dengan kehendak, tetapi bukan kehendak yang murni. Oh tidak, kehendak kita, menurutnya, seperti air sumur tua: penuh dengan kerikil keraguan, lumut kemalasan, dan kadang-kadang, sepasang kaus kaki yang hilang entah dari mana.

Prof. Penny menghabiskan hidupnya mencari cara untuk "memurnikan kehendak." Ia mencoba segalanya. Ia mencoba meditasi di atas satu kaki sambil memakan acar. Ia mencoba berlari maraton mundur. Ia bahkan pernah mencoba meyakinkan kucing tetangganya untuk memahami konsep imperatif kategoris Kant, yang berakhir dengan cakaran yang cukup dalam dan keinsafan bahwa kucing memiliki kehendak yang sangat murni... untuk makan dan tidur.

Suatu hari, saat sedang mengamati genangan air hujan yang keruh, sebuah ide muncul di benaknya seperti gelembung udara dari sepatu bot yang bocor. "Aha!" serunya, membuat burung-burung di sekitarnya terkejut. "Kehendak itu seperti air! Kita perlu menyaringnya!"

Maka, Prof. Penny menciptakan sebuah mesin. Bukan mesin penyaring air biasa, tentu saja. Ini adalah "Pemurni Kehendak Universal." Mesin ini tampak seperti perpaduan antara mesin pembuat kopi raksasa, alat musik tiup kuno, dan patung taman yang agak jelek. Ada tuas yang bertuliskan "Keinginan Sesekali," kenop untuk "Dorongan Impulsif," dan layar yang memproyeksikan "Visi Masa Depan yang Agak Kabur."

Orang-orang penasaran. Yang pertama mencoba adalah seorang tukang roti bernama Barry, yang kehendaknya selalu terombang-ambing antara membuat roti gandum yang sehat atau pai apel yang sangat lezat tapi kurang sehat. Barry memasukkan kehendaknya ke dalam mesin. Terdengar suara gemuruh, desisan, dan dentingan seperti koin yang jatuh. Setelah beberapa saat, keluarlah sebotol kecil cairan bening yang berkilau.

"Ini dia," kata Prof. Puddifoot dengan bangga. "Kehendak Murni Anda, Barry!"

Barry menelan cairan itu. Seketika, matanya melebar. "Astaga!" serunya. "Sekarang aku tahu! Aku akan membuat... roti gandum yang sehat dan pai apel yang sehat! Dengan apel yang dipetik secara etis dan gandum yang digiling dengan kebahagiaan!" Kehendaknya menjadi begitu murni, sehingga ia bahkan menemukan cara untuk menggabungkan dua keinginannya yang sebelumnya bertentangan.

Kabar menyebar. Orang-orang berbondong-bondong datang untuk memurnikan kehendak mereka. Seorang seniman yang tidak bisa memutuskan antara melukis lanskap atau potret, setelah meminum kehendak murninya, mulai melukis lanskap dengan wajah-wajah tersembunyi di awan. Seorang politikus yang bingung antara melayani rakyat atau mengisi rekening pribadinya, setelah meminum kehendak murninya, memutuskan untuk melayani rakyat dengan rekening pribadinya... yang kemudian disumbangkan seluruhnya untuk amal. (Yah, itu adalah langkah awal yang baik!)

Tapi kemudian datanglah Harold, seorang pria yang kehendaknya adalah... untuk tidak melakukan apa-apa. Ia hanya ingin duduk di sofa, menonton televisi, dan makan keripik. Prof. Penny sedikit gugup. "Apa yang akan terjadi jika kita memurnikan kehendak yang sudah sangat malas?" gumamnya.

Harold memasukkan kehendaknya yang penuh keripik dan bantal sofa ke dalam mesin. Mesin itu bergetar lebih hebat dari biasanya, mengeluarkan asap berwarna kentang goreng. Akhirnya, sebotol cairan bening keluar. Harold meminumnya.

Ia terdiam sejenak. Lalu, matanya berbinar. "Aku tahu!" serunya. "Aku akan menjadi pemalas yang paling efisien di dunia! Aku akan menciptakan sofa yang memijat, memberi makan, dan bahkan mengganti saluran tv sendiri! Aku akan mencapai nirwana kemalasan!" Kehendak murninya tidak mengubah tujuannya, tetapi memurnikannya menjadi cara yang paling sempurna dan efisien untuk mencapai tujuannya.

Prof. Penny tersenyum. "Memurnikan kehendak," katanya kepada Harold yang sekarang sedang merancang prototipe sofa impiannya di atas selembar serbet, "bukan berarti mengubah siapa kita. Ini berarti menghilangkan keraguan, gangguan, dan sampah-sampah yang menempel pada keinginan sejati kita. Ini tentang melihat dengan jelas apa yang benar-benar kita inginkan, dan menemukan jalan paling jernih untuk mencapainya, bahkan jika jalan itu melibatkan sofa otomatis!"

Dan begitulah, di alam itu, orang-orang terus memurnikan kehendak mereka. Beberapa menjadi pahlawan yang mulia, beberapa menjadi seniman yang brilian, dan beberapa lagi menjadi pemalas yang sangat, sangat efisien. Prof. Penny, sang filsuf eksentrik, terus mengawasi, tersenyum pada keragaman kehendak murni, dan sesekali, memeriksa mesinnya untuk memastikan tidak ada kaus kaki yang hilang lagi di dalamnya. Karena, seperti yang ia sering katakan, kehendak yang murni adalah kehendak yang bebas dari gangguan, terutama gangguan berbau kaki.


No comments:

Post a Comment