Monday, November 24, 2025

Asketik, Tidak Bersemangat Mengejar Kesenangan Semata

Di sebuah gua yang sunyi, jauh dari hiruk pikuk pasar dan gemerlap pesta, hiduplah seorang petapa bernama Penny. Ia bukanlah petapa biasa yang berpuasa dan bermeditasi dengan khidmat. Penny adalah seorang "Asketik Tidak Bersemangat Mengejar Kesenangan Semata."

Suatu hari, seorang pedagang buah-buahan lewat dan menawarkan, "Penny, coba apel merah segar ini! Manisnya tiada tara, akan membuat lidahmu menari!"

Penny mengamati apel itu dengan tatapan datar. "Menari? Ah, menari. Bukankah lebih efisien jika lidah tetap di tempatnya dan hanya bergerak sesuai kebutuhan untuk mengunyah?"
Pedagang itu tercengang. "Tapi, ini kenikmatan, Penny!"

"Kenikmatan," gumam Penny, "bukankah itu hanya sebuah respons biologis yang didorong oleh evolusi untuk memastikan kelangsungan hidup spesies? Aku sudah hidup. Tugas selesai."

Lalu, lewatlah seorang penari perut yang mempesona, meliuk-liuk dengan gemulai. "Lihatlah gerakanku, Penny! Ini adalah keindahan yang memukau!"

Penny menghela napas. "Memukau? Jika aku ingin melihat gerakan ritmis, aku bisa mengamati pergerakan planet-planet. Jauh lebih presisi, dan tidak memerlukan biaya masuk."
Penari itu terpaku. "Tapi, ini adalah ekspresi jiwa!"

"Jiwa," jawab Penny, "bukankah itu hanyalah konstruksi metaforis untuk kumpulan proses kognitif yang kompleks? Ekspresinya paling baik dilakukan melalui argumen logis, bukan goyangan pinggul."


Suatu sore, seekor kupu-kupu hinggap di hidungnya. Itu adalah kupu-kupu yang sangat indah, dengan sayap berwarna-warni. Penny hanya mengerjapkan mata.

"Apakah kau tidak terkesima dengan keindahannya?" tanya seorang anak kecil yang lewat.
Penny menatap kupu-kupu itu. "Terkesima? Keindahannya hanyalah pantulan cahaya yang ditangkap oleh reseptor visualku, yang kemudian diinterpretasikan oleh otakku sebagai 'indah' berdasarkan pengalaman masa lalu. Tidak ada hal baru di sana."

Kupu-kupu itu terbang menjauh, mungkin merasa sedikit tersinggung dengan analisis ilmiah Penny.

Akhirnya, seorang filsuf yang terkemuka datang mengunjungi Penny, tertarik dengan reputasi anehnya.

"Penny," kata filsuf itu, "mengapa kau menolak semua kesenangan? Bukankah itu esensi kehidupan?"

Penny mengangkat bahu. "Esensi kehidupan? Aku berpendapat bahwa esensi kehidupan adalah kelangsungan eksistensi tanpa gangguan yang tidak perlu. Kesenangan, dengan segala euforia dan kemudian kekecewaannya, hanyalah siklus yang membuang-buang energi. Jika aku tidak bersemangat mengejar kesenangan, aku juga tidak akan kecewa saat kehilangannya. Bukankah itu bentuk kebahagiaan yang paling stabil?"

Filsuf itu berpikir keras. "Jadi, kebahagiaanmu adalah ketiadaan kesenangan dan juga ketiadaan penderitaan?"

"Tepat!" seru Penny, dengan semangat yang sangat minim. "Itu adalah zen yang paling membosankan, paling stabil, dan paling efisien. Mengapa harus mengejar puncak ketika dataran tinggi itu sudah nyaman?"

Filsuf itu mengangguk pelan. "Aku harus mengakui, ada logika aneh di balik itu."

"Aneh?" tanya Penny, "Bukankah lebih aneh jika kita menghabiskan hidup kita mengejar sensasi sesaat yang pada akhirnya akan memudar? Aku memilih untuk tidak memulainya sama sekali."

Dan begitulah Penny melanjutkan hidupnya, seorang petapa yang tidak bersemangat, bahagia dengan ketiadaan kegembiraan yang berlebihan, dan puas dengan keberadaannya yang biasa-biasa saja. Ia adalah bukti bahwa bahkan dalam penolakan kesenangan, ada filosofi yang bisa ditemukan, meskipun mungkin hanya ia sendiri yang memahami sepenuhnya.

No comments:

Post a Comment