Di sebuah alam semesta yang terbuat dari jeli stroberi, hiduplah seorang filsuf eksentrik bernama Prof. Platonikus, yang sehari-harinya disibukkan dengan menumpuk kubus-kubus jeli berwarna-warni. "Ah, Komposisi Akumulasi!" serunya suatu pagi, sambil menumpuk kubus jeli merah di atas kubus jeli biru, lalu kuning, lalu hijau. "Setiap tambahan adalah sebuah 'ada' yang baru, sebuah 'entitas' yang memperkaya totalitas!"
Asistennya, seekor jerapah ungu bernama Gerald yang mengenakan kacamata baca, mengunyah daun eucalyptus dengan serius. "Tapi, Profesor," Gerald mengunyah, "bukankah ini hanya tumpukan? Apakah ada makna lebih dalam dari sekadar 'lebih banyak'?"
Prof. Platonikus tertawa terbahak-bahak, sehingga tumpukan jeli di tangannya bergoyang berbahaya. "Ah, Gerald, di sinilah keindahan Repetisi masuk! Lihatlah!" Ia lalu mengambil dua kubus jeli ungu yang identik dan menumpuknya berdampingan. "Ini adalah 'pengulangan identitas'! Dua kali ungu, dua kali esensi keunguan! Bukankah ini metafora sempurna untuk siklus hidup, musim, atau bahkan lelucon yang diulang-ulang sampai tidak lucu lagi, tapi entah mengapa tetap kita ulangi?"
Gerald mengedipkan mata, seolah baru saja menemukan makna hidup di dalam jeli. "Jadi, akumulasi adalah 'penambahan kuantitas', dan repetisi adalah 'penekanan kualitas'?"
"Hampir!" seru Profesor, sambil dengan dramatis meletakkan kubus jeli oranye di atas tumpukan jeli yang sudah ada. "Akumulasi adalah saat kita mengumpulkan berbagai pengalaman hidup, dari kebahagiaan seukuran kismis hingga kesedihan sebesar semangka. Setiap pengalaman itu menumpuk, membentuk 'diri' kita yang unik.
Gerald mengangguk, melamunkan tumpukan jeli pengalamannya sendiri. "Lalu repetisinya?"
"Dan repetisi!" Profesor melanjutkan, kini dengan suara lebih rendah dan mistis, "adalah saat kita menemukan pola dalam pengalaman-pengalaman itu. Mengapa kita selalu jatuh cinta pada orang yang suka kucing? Mengapa kita selalu lupa membawa payung saat akan hujan? Itu adalah repetisi! Alam semesta mencoba mengajarkan sesuatu pada kita, atau mungkin hanya menertawakan kita!"
Tiba-tiba, tumpukan jeli Professor Platonikus runtuh dengan suara 'plop' yang memuaskan. Jeli-jeli itu berhamburan di lantai, bercampur aduk, menciptakan sebuah karya seni abstrak yang lezat.
"Ah, sebuah dekonstruksi yang tak terhindarkan!" Profesor mendesah, namun tersenyum. "Bahkan dalam kekacauan, ada komposisi baru. Setiap tumpukan yang runtuh adalah permulaan dari tumpukan yang lain, sebuah siklus abadi dari akumulasi dan repetisi. Mungkin hidup ini hanyalah serangkaian jeli yang ditumpuk, diruntuhkan, dan ditumpuk kembali, sampai akhirnya kita menyadari bahwa yang paling penting adalah menikmati setiap gigitan, eh, setiap momen!"
Gerald, yang sudah sibuk menjilati jeli stroberi di lantai, bergumam, "Jadi, esensinya adalah... jangan terlalu serius dengan tumpukan jeli kita?"
Profesor Platonikus mengedipkan mata. "Tepat sekali, Gerald. Karena di dunia yang terbuat dari jeli, gravitasi hanyalah sebuah saran, dan filosofi adalah tentang menemukan kebahagiaan dalam kekacauan yang manis!" Dan mereka berdua pun menghabiskan sisa hari itu dengan menumpuk dan merobohkan jeli, sambil tertawa geli memikirkan betapa lucunya "Komposisi Akumulasi dan Repetisi" dalam hidup mereka yang penuh warna.

No comments:
Post a Comment