Hari ini kita akan menyelami lautan pemikiran yang kadang dangkal, kadang juga bikin kepala pening: yaitu "Keridhaan dan Argumentasi Pemikiran".
Pernahkah kalian merasa, 'Aduh, ini orang ngomong apa sih? Kok ya ngeyelnya sampai ubun-ubun begitu?' Atau justru sebaliknya, 'Eh, kok dia bisa nerima aja ya, padahal argumenku sudah setajam silet cukur!' Nah, hari ini, kita akan ngobrolin dua hal yang sering bikin kita garuk-garuk kepala: yaitu KERIDHAAN dan ARGUMENTASI PEMIKIRAN!
"Bayangkan saja, ada seorang kawan yang baru saja kalah main catur. Mukanya cemberut, bibirnya manyun, dan dia mulai berargumen, 'Tadi itu pionku tergelincir, kuda-kudaku sakit perut, dan mentriku sedang cuti!' Nah, itu namanya ARGUMENTASI! Dia berusaha menjelaskan, membenarkan, bahkan mungkin menyalahkan! Tetapi di sisi lain, ada juga teman yang sama-sama kalah, tapi dia cuma senyum, 'Wah, saya memang kurang latihan! Nanti kita coba lagi!' Itu namanya KERIDHAAN! Menerima dengan lapang dada, tanpa banyak drama, tanpa banyak alasan.
'Kenapa ya, orang itu suka sekali berargumen?' Mungkin karena dia merasa otaknya diciptakan bukan hanya untuk menaruh peci, tapi juga untuk merangkai kata-kata indah yang kadang-kadang cuma dipahami oleh dirinya sendiri! Dan keridhaan? Ah, itu seperti menemukan uang seratus ribu di saku baju yang sudah lama tidak dipakai. Tiba-tiba, hati menjadi tenang, senyum mengembang, dan dunia terasa lebih indah. Padahal, mungkin uang itu milik tetanggamu yang nyangkut!"
"Memangnya, apa hubungannya keridhaan dengan argumentasi?".
"Tentu saja ada! Seperti hubungan antara ikan dan air, atau antara jenggot dan kutu! Mereka seringkali ada bersamaan, tetapi dengan cara yang berbeda."
"Kunci dari 'keridhaan' dalam berargumentasi itu adalah tidak memaksakan diri untuk selalu menang. Coba renungkan, apakah lebih mulia memenangkan perdebatan tetapi kehilangan teman, atau mengalah sebentar tapi mempertahankan persahabatan? Keridhaan itu seperti bantal empuk, dia bisa menerima segala bentuk kepala, entah itu kepala yang isinya penuh teori, atau kepala yang isinya cuma remah-remah kerupuk.
Dan argumentasi? Gunakanlah ia seperti rempah-rempah dalam masakan. Cukup secukupnya, agar rasanya lezat dan menggugah selera. Jangan sampai kebanyakan, nanti malah pahit atau terlalu pedas, sampai-sampai pasanganmu muntah! Jangan sampai argumenmu justru membuat orang lain menutup telinga, seperti mendengar suara kucing berkelahi di malam hari!
"Maka, bayangkan jika kita bisa berargumen dengan bijak, seperti pujangga yang merangkai kata-kata indah, bukan seperti tukang palak yang merampas hak orang lain! Dan kita bisa berlapang dada menerima kekalahan, seperti ksatria yang jatuh di medan perang namun tetap bangga dengan pertempurannya."
"Jadi, apa pelajaran yang bisa kita petik hari ini? Pertama, sebelum berargumen, tanyakan pada diri sendiri: 'Apakah ini benar-benar penting, atau hanya sekadar ingin pamer kecerdasan?' Kedua, jika memang harus berargumen, sampaikanlah dengan kepala dingin, hati yang lapang, dan senyum yang ramah. Ingat, wajah yang cemberut itu seperti iklan sabun mandi yang gagal, dan tidak menarik!
Ketiga, dan ini yang paling penting: Berlatihlah untuk menerima! Menerima bahwa orang lain mungkin mempunyai sudut pandang yang berbeda, menerima bahwa kita tidak selalu benar, dan menerima bahwa terkadang, diam itu adalah emas. Bahkan mungkin berlian! Maka, mari kita hidupkan semangat keridhaan, sambil tetap mengasah ketajaman berpikir. Semoga hari-harimu dipenuhi dengan tawa, dan hikmah, Terima kasih!"

No comments:
Post a Comment