Ketika Mahkota Ilusi Membutakan: Filosofi Mendewakan Jabatan
Di panggung kehidupan yang riuh, di mana ambisi menari-nari dan ilusi berkilauan, kita sering menyaksikan fenomena aneh: Mendewakan Jabatan. Ini bukan sekadar mengejar posisi atau mengidamkan status, melainkan sebuah proses spiritual yang keliru, di mana hamba berubah menjadi penyembah, dan objek yang fana disematkan atribut ketuhanan.
Bayangkan sejenak seorang petani. Ia menggarap tanah, merawat tanaman, dan memanen hasilnya. Bagi petani ini, cangkul adalah alat, pupuk adalah penyokong, dan hasil panen adalah tujuan. Ia memahami bahwa cangkul, sehebat apa pun ukirannya, hanyalah sepotong logam. Pupuk, semanjur apa pun formulasinya, hanyalah segenggam materi. Ia tidak akan pernah bersujud pada cangkulnya, atau meminta berkat dari sekarung pupuk. Ia tahu, kekuatan sejati ada pada ketekunan, ilmu, dan karunia alam yang lebih besar.
Namun, dalam ranah jabatan, logika ini seringkali terbalik. Jabatan, layaknya cangkul sang petani, sejatinya adalah alat. Ia adalah instrumen untuk mencapai tujuan yang lebih luhur: melayani, menciptakan, mengubah, atau memimpin. Namun, ketika seseorang mulai "mendewakan" jabatan, cangkul itu tiba-tiba bertransformasi menjadi berhala.
Ia menjadi seperti seorang nahkoda yang terpaku pada kemudi emas, melupakan lautan luas dan tujuan pelayarannya. Kemudi itu, yang seharusnya menjadi alat navigasi, kini menjadi objek pujaan. Sang nahkoda tidak lagi melihat bintang, tidak lagi merasakan angin, dan tidak lagi mendengar gelombang. Pandangannya hanya tertuju pada kilauan kemudi, meyakini bahwa kekuatan dan keberadaan dirinya bergantung sepenuhnya pada genggaman eratnya pada benda mati itu.
Diksi yang sering mengiringi fenomena ini pun mencerminkan penyembahan terselubung. Kita mendengar frasa seperti "kekuasaan abadi", "kursi keramat", atau "tahta tertinggi". Kata-kata ini seolah mengangkat jabatan dari ranah fana ke dimensi sakral, padahal ia hanyalah konstruksi sosial yang rentan, sementara, dan seringkali kosong dari substansi jika tidak diisi dengan integritas dan pelayanan.
Implikasinya mengerikan. Ketika jabatan didewakan, ego membesar, empati mengering, dan rasionalitas menguap. Keputusan tidak lagi didasarkan pada kebaikan bersama, melainkan pada upaya melanggengkan "kekuasaan ilahi" yang sebenarnya rapuh. Mereka yang mendewakan jabatan seringkali menjadi pemilik bayangan yang ketakutan akan kehilangan ilusi mereka. Mereka akan membangun tembok tinggi dengan arogansi, mengabaikan suara-suara di luar singgasana mereka, dan menghukum siapa pun yang berani mempertanyakan keilahian posisi mereka.
Pada akhirnya, filosofi "mendewakan jabatan" adalah sebuah tragikomedi. Ia adalah kisah tentang manusia yang, dalam upayanya mencari makna dan kekuatan, justru mengikatkan diri pada rantai fatamorgana. Realitas akan selalu membuktikan bahwa setiap singgasana, seindah apa pun hiasannya, pada akhirnya akan kosong. Dan setiap mahkota ilusi, seberat apa pun bebannya, pada akhirnya akan runtuh, meninggalkan debu dan kekosongan bagi mereka yang mendewakannya. Kebesaran sejati tidak terletak pada seberapa tinggi posisi yang diduduki, melainkan seberapa dalam jejak kebaikan yang ditorehkan, tanpa perlu berlutut pada bayangan kekuasaan.
No comments:
Post a Comment