Ketika menafsir tulisan kita akan terikat
kepada teks, dan dalam penafsirannya harusnya dipahami ketika teks itu ditulis.
Kekeliruan dalam penafsiran suatu teks itu terjadi karena kita tidak memahami
makna kata itu ketika teks tersebut dituliskan. Dengan ketulusan dan tidak
bersandiwara barulah kita bisa atau layak melakukan sebuah penafsiran tertentu.
Akal itu hebat tetapi memiliki
keterbatasan. Iman adalah pembenaran hati bukan pembenaran akal karena banyak sekali
hal-hal yang tidak bisa terjangkau oleh nalar manusia. Akui saja bahwa ada
wilayah-wilayah tertentu yang kita tidak bisa menalarkannya.
Iman itu selalu disertai dengan tanda
tanya, seperti seorang yang sedang mendayung ditengah ombak dan gelombang yang
jauh disana terlihat sebuah pulau yang indah. Akan selalu ada tanda tanya didalam
hatinya, apakah kita akan sampai disana ataukah tidak?
Jika kita sampai disana itu bukan
lagi sebagai iman karena kita sudah mengalaminya dan sudah sampai di pulau yang
dituju. Oleh sebab itu diatas iman ada bentuk lain yang bernama keyakinan.
Mungkinkah kita hanya dituntut iman dan tidak harus yakin. Kita hanya dituntut
sesempurna mungkin dalam pelaksanaannya dalam melakukan sesuatu hal.
Pengetahuan dan keteladanan menjadi
jalan satu-satunya untuk merespon atau memperbaiki keadaan hari ini. Dengan
pengetahuan kita akan membenarkan apa yang diluar dari jangkauan akal karena
setiap objek akan ada cara untuk mendekatinya. Ketika cara pendekatannya keliru
maka pasti hasilnya pun berujung pada kekeliruan.
Sesuatu yang baik adalah yang berada
dalam dua keburukan, namun ada juga kebaikan yang tidak ada pertengahannya. Terkadang
kebaikan itu sudah mencapai puncaknya dan tidak ada dua di antaranya, seperti
halnya keadilan. Diantara yang di maksud ialah ditengah-tengah. Tengah-tengah berarti
menakar dengan kesimbangan dengan ketepatan sikap, bisa jadi ada sesuatu hal yang
tepat untuk ditegur tetapi bukan waktunya disana.
Sangat mengherankan wahyu yang
diterima Nabi SAW adalah bacalah, aneh karena itu ditujukan kepada Ia yang mulia
yang tidak pandai membaca. Menjadi bukan lagi suatu keanehan, jika kita pahami,
membaca merupakan kunci untuk meraih peradaban maupun kemajuan dalam segala
bidang dengan syarat demi dan karena Tuhanmu dan kebersihan hatimu. Dan manusia
akan bisa jikalau dia mau.
Dalam kehidupan ini ada yang menuntut
menggunakan nalar dan ada yang diluar jangkauan nalar. Bagaikan matahari, kita
tidak bisa memahaminya karena kita bisa silau dengan cahayanya namun kita bisa
melihatnya dengan menggunakan kacamata hitam.
Dalam kondisi sekarang, kita tidak
bisa menggunakan nalar orang dahulu untuk digunakan pada masa sekarang kecuali jika
itu masih relevan dan dapat diterima oleh pesatnya perkembangan akhir-akhir ini.
Dan jangan pula menggunakan alat masa kini yang belum diketahui oleh orang dahulu
untuk menilai masa yang lampau. Karena berfikir menggunakan nalar dapat dipengaruhi
oleh banyak hal dalam membentuk sebuah pemahaman.
Problem kita hari ini salah satunya adalah orang-orang yang berada pada posisi yang bisa dilihat orang banyak atau yang semestinya menjadi contoh tidak mencerminkan sesuatu yang baik. Orang-orang yang baik-baik seringkali terpinggirkan, sehingga manusia lebih cenderung memilih yang menyenangkan walaupun berkibat pada keparahan hidup bersama.

No comments:
Post a Comment