BUKAN HIDUP DENGAN CARA BERPIKIR MANUSIA
Apa yang kita lakukan dan yang kita berikan apabila dikepung oleh keadaan?
Mengulur harta adalah keuntungan, namun jika itu menjadi tujuan adalah suatu bentuk kepamrihan. Ketika harta ditekan, maka akan terhimpit oleh kesempitan. Begitulah dinamika kehidupan, semakin banyak yang keluar semakin banyak pula yang akan masuk berurutan. Pun sebaliknya, kalau tidak ada yang keluar bagaimana ia bisa masuk berdesak - desakan.
Wilayah hitam putih kehidupan mungkin bisa kita jelaskan dengan ilmu pengetahuan, tetapi daerah abu - abu tidak bisa kita jelaskan kecuali dengan keimanan.
Manusia memang berbeda dengan binatang karena ia tahu tentang sebab akibat dan baik buruk peradaban. Namun didalam kehidupan akan penuh dengan pekat kegelapan. Kita tidak bisa menjangkau beberapa jam kemudian dan esok hari kita tidak tahu keadaan. Masihkah ada atau akan berakhir menyisakan cerita.
Kita diperkenankan pasrah kepada-Nya, tetapi kita tidak boleh menyerah dengan masalah yang ada. Titik tumpu kita adalah berjalan terus hingga masa kita berakhir. Ikutilah sesiapa saja yang tidak berharap dan meminta - minta.
Ketika kebanyakan orang menumpuk harta untuk kehidupannya, disaat itu pula banyak manusia yang terus menanam tanpa mengharap tumbuh dan berbuah angka. Sejatinya puncak keikhlasan adalah kenikmatan tertinggi bagi pemiliknya.
Tuhan akan menjawab salam ketika hambanya menyapa, tetapi jawabannya apa dan bentuknya bagaimana kita tidak mempunyai hak untuk mengaturnya. Mengabulkan atau tidak adalah wewenang-Nya, karena konsep Tuhan sangatlah berbeda. Kita hidup bersama-Nya, bukan hidup dengan cara berpikir manusia.
Jikalau ada yang maha besar di dunia ini, maka Tuhan jauh lebih maha besar. Apapun yang telah kita berikan adalah investasi realita dan pasti ada hitungannya. Bukan semata - mata masa lalu yang lewat begitu saja.
Sebatang pohon yang ditebang akan sedikit banyak mempengaruhi mata air kita, sekecil apapun benih yang kita sebarkan akan menumbuhkan harapan dan mengobati rasa putus asa. Lindungilah kami dari keterbatasan dan kesempitan cara berpikir manusia.