"Terkadang aku berpikir, tubuh kita adalah detektor kebohongan paling canggih di dunia," kata Maya, menyesap kopinya. "Bahkan ketika mulut kita bersikeras 'tidak', tubuh kita berteriak 'ya'."
Ben mengangguk setuju. "Persis! Seperti, pernahkah kamu memperhatikan bagaimana seseorang yang mencoba menyembunyikan sesuatu akan tanpa sadar menyentuh hidungnya? Seolah-olah tubuhnya mencoba menutupi kebohongan yang baru saja keluar."
"Atau, saat seseorang berpura-pura tenang, tapi kakinya terus bergoyang tak terkendali di bawah meja," tambah Maya sambil terkekeh. "Itu adalah alarm kecil yang berbunyi, 'Perhatian! Ada sesuatu yang tidak beres di sini!'"
"Dan jangan lupakan mata!" seru Ben. "Pupil yang membesar saat terkejut atau takut, atau tatapan menghindari yang jelas-jelas menyembunyikan sesuatu. Mata adalah jendela jiwa, dan jiwa tidak tahu cara berbohong."
"Benar sekali," kata Maya. "Aku pernah membaca tentang mikroekspresi. Itu adalah ekspresi wajah yang hanya muncul sepersekian detik, terlalu cepat untuk disembunyikan. Tubuh kita bereaksi terhadap emosi yang sebenarnya, bahkan sebelum kita sempat menyensornya."
Ben berpikir sejenak. "Jadi, intinya, tubuh kita itu seperti teman yang sangat setia dan jujur, yang selalu menceritakan kebenaran, bahkan ketika kita mencoba untuk memutarbalikkannya?"
"Persis!" jawab Maya, tersenyum. "Tubuh kita adalah penasihat bijak yang tidak pernah lelah mengingatkan kita tentang kebenaran. Jadi, lain kali kamu merasa ingin berbohong, ingatlah: tubuhmu akan selalu menjadi saksi bisu yang paling jujur."
"Aku kira itu berarti kita harus lebih memperhatikan bahasa tubuh kita sendiri, dan juga orang lain," kata Ben. "Mungkin ada lebih banyak kebenaran yang bisa kita temukan di sana daripada yang kita kira."
"Pasti," kata Maya. "Dunia ini adalah pentas panggung, dan tubuh kita adalah para aktor yang selalu mengungkapkan kebenaran, bahkan tanpa kata-kata."
No comments:
Post a Comment