"Emosi Bukan Musuh, Tapi..."
(Latar: Sebuah kedai kopi yang nyaman, sore hari. Dua teman, Maya dan Danu, sedang menyeruput kopi mereka. Maya dikenal dengan pandangannya yang selalu 'di luar kotak'.)
Danu: (Menghela napas) Aduh, hari ini rasanya emosi banget. Kerjaanku berantakan, terus tadi di jalan kena macet parah. Rasanya pengen marah-marah aja.
Maya: (Menyengir tipis, mengaduk kopinya) Marah? Kenapa harus marah? Dia kan cuma pengantar pesan.
Danu: (Mengerutkan kening) Pengantar pesan? Maksudmu? Marah itu emosi, Maya. Dan kadang, emosi itu rasanya kayak musuh yang siap menyerangmu dari dalam.
Maya: Hmm, coba bayangkan begini, Danu. Emosi itu bukan musuh. Dia itu... kurir. Seorang kurir yang sangat gigih dan setia. Dia datang membawa paket untukmu.
Danu: Paket apa? Paket penderitaan?
Maya: (Tertawa kecil) Bukan! Paket informasi. Misalnya, rasa marahmu tadi. Itu kurir yang datang membawa pesan, "Hei, ada sesuatu di sini yang tidak sesuai dengan harapanmu, atau ada batasanmu yang dilanggar." Atau kesedihan, itu kurir yang datang membawa pesan, "Ada sesuatu yang berharga hilang, atau ada proses pelepasan yang harus terjadi."
Danu: Jadi, kalau kurirnya datang, aku harus apa? Menerima paketnya dengan senang hati, padahal isinya bikin aku jengkel?
Maya: Nah, ini poinnya. Kamu tidak harus menikmati isinya. Tapi kamu perlu membaca pesannya. Kalau kamu mengabaikannya, menendang kurirnya keluar, atau pura-pura tidak ada, kurir itu akan terus datang. Bahkan mungkin dia akan datang dengan paket yang lebih besar dan suaranya lebih keras, sampai kamu benar-benar mendengarkan.
Danu: (Mulai sedikit tertarik) Jadi, kalau aku marah karena pekerjaan berantakan, pesannya adalah...?
Maya: Mungkin pesannya adalah, "Kamu butuh istirahat," atau "Kamu butuh bantuan," atau "Sistem kerjamu perlu diperbaiki," atau bahkan "Prioritasmu perlu diatur ulang." Tergantung konteksnya. Kuncinya bukan menghilangkan marah itu, tapi memahami apa yang ingin disampaikannya.
Danu: Jadi emosi itu kayak lampu indikator di dashboard mobil ya? Kalau nyala merah, bukan berarti lampunya musuh, tapi ada masalah yang harus dicek.
Maya: Persis! Kalau kamu cuma menutup lampu indikatornya dengan stiker, masalahnya kan tidak hilang. Malah bisa makin parah. Emosi itu sama. Dia hanya memberi tahu ada sesuatu yang butuh perhatianmu. Dia bukan penyebab masalahnya, tapi penunjuk jalannya.
Danu: (Mengangguk-angguk, sambil menyesap kopi) Hmm, menarik juga. Jadi lain kali kalau aku merasa emosi, aku akan coba bertanya: "Kurir, paket apa yang kau bawa hari ini? Pesan apa yang ingin kau sampaikan?"
Maya: Nah, itu dia! Dengan begitu, emosi bukan lagi musuh yang harus dilawan, tapi mitra yang ingin membantumu. Kadang memang sedikit berisik dan urgent, tapi niatnya baik. Dia ingin kamu lebih selaras dengan dirimu sendiri.
Danu: Baiklah, Maya. Aku rasa aku baru saja mengubah pandanganku tentang "kurir-kurir" dalam diriku. Terima kasih kopinya, dan terima kasih untuk perspektif barunya!
Maya: Sama-sama, Danu. Sekarang, mau pesan paket informasi apa lagi? Espresso kedua mungkin?
No comments:
Post a Comment