Di sebuah desa yang tak pernah tercantum di peta mana pun (mungkin karena peta itu sendiri terus-menerus berubah), hiduplah seorang filsuf eksentrik bernama Prof. Pikir. Rambutnya seputih kapas yang baru saja lulus ujian masuk surga, dan kacamata tebalnya selalu melorot ke ujung hidung, seolah-olah berusaha mengintip masa depan yang belum terangkai.
Prof. Pikir memiliki obsesi unik: menghitung "langgam perubahan." Apa itu langgam perubahan? Nah, menurut Prof. Pikir, setiap perubahan, sekecil apa pun, memiliki irama, melodi, dan tempo-nya sendiri. Jatuhnya daun ke tanah bukan sekadar jatuh, itu adalah andante kesedihan musim gugur. Tumbuhnya jamur di pagi hari adalah allegro kehidupan yang tak terduga. Dan perubahan warna langit saat senja adalah crescendo dramatis alam semesta.
Suatu pagi, Prof. Pikir duduk di beranda rumahnya yang miring, mengamati seekor semut yang sedang berjuang membawa sebutir remah roti. "Aha!" serunya, mengacungkan pulpen ke udara. "Perubahan posisi remah roti dari A ke B adalah staccato perjuangan! Dan perhatikan langkah semut itu, ia sedikit melambat di tikungan. Itu adalah ritardando keraguan diri semut! Luar biasa!"
Warga desa sudah terbiasa dengan keanehan Prof. Pikir. Mereka hanya tersenyum maklum ketika melihatnya mondar-mandir dengan meteran di tangan, mengukur "panjang melodi" sebuah pohon yang baru tumbuh tunas, atau mendengarkan "harmoni pergeseran" letak batu di sungai.
Masalah muncul ketika desa memutuskan untuk membangun jembatan baru. Jembatan lama sudah reyot, dan semua sepakat butuh pembaharuan. Tapi Prof. Pikir panik. "Tunggu! Kalian tidak bisa begitu saja mengubah infrastruktur sepenting ini tanpa menghitung langgam perubahannya!" ia berseru, wajahnya pucat pasi seperti gorden yang sudah lama tidak dicuci.
Kepala Desa, Pak Kades Bijak (yang diam-diam juga senang mendengarkan ocehan Prof. Pikir), mencoba menenangkan. "Profesor, ini hanya jembatan. Untuk mempermudah kita menyeberang."
"Hanya jembatan?!" Prof. Pikir terkesiap. "Anda meremehkan! Pikirkan langgam kehancuran jembatan lama! Itu adalah fortissimo kenangan masa lalu yang berderak! Dan pembangunan jembatan baru? Itu adalah presto harapan, tetapi bisa jadi juga diminuendo dari nilai-nilai lama jika tidak hati-hati!"
Ia bersikeras bahwa sebelum jembatan dibangun, mereka harus menghitung langgam perubahan pada setiap kayu, setiap paku, dan setiap batu yang akan digunakan. Ia bahkan mencoba mendeteksi "nada keraguan" pada baja yang baru didatangkan.
Para pekerja konstruksi, yang tadinya bersemangat, kini hanya bisa menggelengkan kepala. Mereka harus menunggu Prof. Pikir selesai "mendengarkan" melodi setiap material. Tukang kayu mendapati Prof. Pikir menempelkan telinganya ke papan, bergumam, "Hmmm, ini sepertinya adagio dari pohon pinus yang merindukan hutan..."
Suatu hari, saat Prof. Pikir sedang asyik menghitung langgam perubahan pada sebuah sekop, ia tersandung dan terjatuh. Kacamata tebalnya terlempar, dan ia tidak bisa melihat apa-apa. Dengan panik, ia meraba-raba tanah.
"Oh tidak! Langgam jatuhku ini adalah sforzando yang tak terduga! Dan langgam kacamata yang hilang ini adalah fermata kebingungan yang tak berujung!"
Seorang anak kecil bernama Lala mendekat. "Profesor, Anda baik-baik saja?" tanyanya.
"Tidak Lala! Kacamata saya hilang! Saya tidak bisa lagi menghitung langgam perubahan!"
Lala, dengan polosnya, mengambil kacamata Prof. Pikir yang tergeletak tepat di samping kakinya. "Ini, Profesor."
Prof. Pikir memakai kacamatanya, matanya berkedip-kedip. Ia menatap Lala, lalu kacamata di tangannya. Tiba-tiba, senyum lebar merekah di wajahnya.
"Lala," katanya, "tahukah kamu? Langgam kehilangan dan penemuan kembali kacamata ini adalah rondo yang sempurna! Sebuah siklus yang kembali ke awal, dengan variasi kecil di setiap putarannya!"
Sejak saat itu, Prof. Pikir sedikit mengubah filosofinya. Ia tetap menghitung langgam perubahan, tapi kini ia lebih sering tersenyum. Ia menyadari bahwa kadang, perubahan yang paling sederhana pun bisa memiliki melodi yang paling indah, dan tak semua langgam perlu dianalisis dengan terlalu serius. Terkadang, cukup dinikmati saja.
Jembatan akhirnya selesai. Dan ketika Prof. Pikir melintasi jembatan baru itu untuk pertama kalinya, ia tidak menghitung langkahnya. Ia hanya tersenyum, merasakan hembusan angin yang seolah memainkan scherzo riang di pipinya, dan gumamnya, "Ah, langgam kebahagiaan ini... tak terhingga dan tak perlu dihitung."

No comments:
Post a Comment