Di sebuah sudut alam semesta yang jauh, di luar galaksi-galaksi yang dikenal dan di antara nebula-nebula yang berbisik, ada sebuah planet yang dinamakan Terra. Bukan, bukan Bumi kita, tetapi sebuah kembaran spiritual yang entah bagaimana, oleh ulah takdir atau mungkin hanya kebetulan kosmik, memiliki kebiasaan yang sangat mirip dengan kita. Penduduk Terra, yang dikenal sebagai Terran, adalah makhluk-makhluk berakal dengan kecenderungan aneh untuk menciptakan masalah dan kemudian mencoba memperbaikinya dengan cara yang paling rumit dan seringkali, paling lucu.
Setiap tahun, pada siklus ke-365 dari orbit planet mereka mengelilingi bintang induknya, Terran merayakan "Hari Permintaan Maaf Global kepada Alam Semesta." Ini adalah hari di mana setiap Terran, dari pemimpin tertinggi hingga anak kecil yang baru belajar merangkak, secara kolektif merenungkan kesalahan-kesalahan mereka terhadap kosmos.
"Saudara-saudari Terran!" seru Presiden Zorp, dengan jubah upacara yang berkilauan seperti komet yang baru dicuci. "Hari ini, kita menghadapi cermin alam semesta dan bertanya: Apakah kita telah menjadi tetangga yang baik?"
Kerumunan di bawahnya bergumam setuju, beberapa menyeka air mata haru, yang lain sibuk mencari sinyal Wi-Fi.
"Kita telah mengebor terlalu banyak lubang di kerak planet," lanjut Zorp, suaranya dramatis. "Kita telah membuang terlalu banyak sampah antarbintang ke jalur migrasi kupu-kupu kosmik!"
Seorang ilmuwan muda di barisan depan, Dr. Plumbus, menyenggol rekannya. "Kupu-kupu kosmik? Bukankah itu hanya metafora untuk debu angkasa yang mengganggu sensor teleskop?"
Rekannya, Profesor Grungle, menghela napas. "Sst! Jangan merusak momen filosofisnya, Plumbus. Ini Hari Permintaan Maaf. Kita harus merasa bersalah, bahkan jika kita tidak yakin mengapa."
Selama upacara inti, setiap Terran diminta untuk menulis permintaan maaf pribadi mereka di selembar kertas daur ulang khusus yang bisa membusuk di ruang hampa. Seorang anak kecil, Pip, sibuk menggambar alien berkaki tiga dengan tanduk di kertasnya. Ibunya bertanya, "Pip, itu bukan permintaan maaf. Apa yang kamu gambar?"
Pip dengan serius menjawab, "Ini adalah permintaan maafku kepada alien yang kukira mencuri pensilku kemarin. Ternyata hanya jatuh di bawah tempat tidur."
Malamnya, ribuan, bahkan jutaan, gulungan permintaan maaf ini diluncurkan ke angkasa dalam kapsul-kapsul yang ramah lingkungan. Tujuannya adalah agar "pesan-pesan tulus" ini mencapai setiap sudut alam semesta, dibaca oleh entitas-entitas kosmik, dan semoga, menginspirasi pengampunan.
Di sisi lain alam semesta, di sebuah galaksi jauh yang disebut Andromeda, ada sebuah spesies berakal yang terbuat dari energi murni, dikenal sebagai Celestia. Mereka memiliki indra kosmik yang sangat peka. Malam itu, mereka merasakan gelombang energi aneh melintasi ruang angkasa, membawa aroma kertas daur ulang dan perasaan bersalah yang sangat manusiawi.
"Ada apa itu?" tanya seorang Celestia yang disebut Lumina, berdenyut dengan rasa ingin tahu.
Celestia tertua, bernama Aethel, yang bersinar lebih terang daripada yang lain, menjawab, "Ah, itu Terran lagi. Hari Permintaan Maaf Global mereka."
"Permintaan maaf? Untuk apa?" Lumina bertanya, bingung. "Mereka selalu mengirimkan ini. Kadang-kadang untuk 'mengganggu keseimbangan gravitasi dengan membangun terlalu banyak menara tinggi', kadang-kadang untuk 'menyebabkan polusi cahaya yang membuat bintang-bintang terlihat kurang dramatis'."
Aethel tertawa, gelombang energinya beriak indah. "Mereka itu lucu, bukan? Mereka adalah satu-satunya spesies yang dengan sungguh-sungguh meminta maaf kepada seluruh alam semesta atas keberadaan mereka."
"Apakah kita mengampuni mereka?" tanya Lumina.
Aethel merenung sejenak. "Alam semesta tidak peduli dengan pengampunan, Lumina. Alam semesta hanya ada. Terran, dengan kebiasaan aneh mereka ini, adalah sebuah anomali yang indah. Mereka mengingatkan kita bahwa bahkan di antara bintang-bintang, ada hati yang mencoba memahami tempat mereka, betapapun canggungnya."
Di Terra, para Terran yang lelah tetapi merasa lebih ringan, menikmati sisa malam dengan festival cahaya dan makanan khas yang disebut "Kue Penyesalan." Mereka mungkin tidak tahu apakah alam semesta benar-benar menerima permintaan maaf mereka, tetapi satu hal yang pasti: mereka merasa lebih baik. Dan mungkin, hanya mungkin, merasa lebih baik adalah yang paling penting.
Dan begitulah, di antara tawa dan renungan, Terran terus hidup, membuat kesalahan, meminta maaf secara global, dan mengingatkan alam semesta bahwa di balik segala hiruk-pikuknya, ada makhluk-makhluk yang mencoba, dengan segala keterbatasannya, untuk menjadi bagian yang baik dari keajaiban kosmik ini.
No comments:
Post a Comment