MARKAS BARU KEKUASAAN
Berawal dari ketidakmampuan melihat masa depan dengan kalkulasi perhitungan. Kita akan membangun markas baru yang penuh dengan perdebatan. Didalam kondisi yang masih menyimpan sisa energi, limpahan masa lalu yang belum hilang dan masih terpecah serta terkotak - kotakkan.
Apakah ini bentuk kepanikan markas lama yang tidak bisa merealisasikan janji yang telah digembar - gemborkan? Mungkinkah ini bentuk rasa frustasi sehingga memilih jalan pintas membangun sebuah monumen peninggalan? Atau apakah ini tukar tambah kepentingan untuk membatalkan rasa persahabatan yang telah menjadi kesatuan?
Dalam perhitungan angka, kita akan mulai kondisi kritis pada dua ribu dua puluh tiga. Disaat kita baru belajar membaca psikologis manusia, disaat itu juga ekploitasi bekerja. Kesetaraan dan perlakuan yang berbeda memunculkan banyak korban manusia.
Ketidakadikan akan mulai merambah ke hal - hal yang rasial sehingga akan menimbulkan konflik horizontal. Kita tidak sadar sedang dipanggang dalam bara api sosial yang suatu saat bisa terbakar tanpa alasan. Marah tanpa dipicu dan tantangan pertarungan hidup mati di jalanan.
Kepala kita mempunyai ambisi yang berubah - ubah dengan menggampangkan kerumitan dan ketidakmampuan. Memahami anggaran sebagai brankas bukan konsep penataan. Yang tidak mengerti bahwa pemain pasar uang bukanlah investor jangka panjang. Namun kepala kita menulis narasinya dengan kalimat yang seakan menenangkan.
Sebuah perjanjian pasti akan ada pondasi yang tidak bisa diungkapkan. Kita perlu mempelajari lapisan - lapisan dan strategi dalam kesepakatan. Kita sedang dibaca oleh kumpulan pesawat di atas ketinggian dan kita tidak kuat masuk dalam permainan karena keterbatasan anggaran.
Bukan markas baru yang didengungkan, melainkan mempercepat perubahan baru secepat kepala ini menyuruh mulut mengucapkan janji palsu. Bukan yang besar menghancurkan yang kecil, tetapi yang cepat yang akan mengalahkan yang lambat dan kerdil.
Berfokuslah kepada konsep bukan kepada tuntutan proyek. Seburuk apapun situasi keadaan yang terjadi pada rumah besar kita, tentu kita sekeluarga berusaha melewatinya.
Kita percaya salah satu cara mengatasi ini semua adalah dengan melakukan perombakan total secepatnya. Harusnya ada keterlibatan, kajian matang dan panjang sebelum menentukan kebijakan apalagi pemindahan domisili kekuasaan.