Dalam teater agung eksistensi, seringkali kita saksikan sebuah tarian berbahaya: tarian antara potensi "serba kuasa" dan godaan "nafsu megalomania". Bukan tentang Tuhan yang Maha Kuasa, melainkan tentang manusia, yang dalam kegelapan batinnya, menyangka dirinya mampu menggenggam kendali absolut atas segala. Ini adalah ilusi puncak, sebuah fatamorgana di lembah bayangan.
Bayangkan seorang nahkoda kapal yang baru saja melewati badai dahsyat. Kapalnya selamat, awaknya utuh. Dalam euforia kemenangan, ia mungkin mulai percaya bahwa angin, ombak, bahkan takdir itu sendiri tunduk pada keahliannya. Ia lupa bahwa badai itu pun reda karena hukum alam, bukan semata-mata karena perintahnya. Inilah cikal bakal megalomania: ketika hasil kebetulan atau faktor eksternal disalahartikan sebagai buah dari kekuatan pribadi yang tak terbatas.
Analogi lain adalah anak kecil yang menemukan sebatang tongkat. Dengan tongkat itu, ia bisa menunjuk, menggambar di tanah, bahkan "mengalahkan" monster imajiner. Di matanya, tongkat itu adalah perpanjangan kekuatannya, alat serba guna. Namun, tongkat itu tetaplah sebatang kayu, tunduk pada hukum fisika. Ia tidak bisa membuat gunung bergeser atau sungai mengalir ke atas. Nafsu megalomania adalah ketika kita sebagai orang dewasa, dengan segala "tongkat" kekuasaan yang kita miliki – kekayaan, jabatan, pengaruh – mulai percaya bahwa tidak ada batasan untuk apa yang bisa kita capai, seolah-olah realitas itu sendiri adalah tanah liat yang bisa kita bentuk sesuka hati.
Diksi "serba kuasa" sendiri adalah paradoks. Manusia, dengan segala kecerdasannya, adalah makhluk yang fana dan terbatas. Keinginan untuk serba kuasa seringkali berakar pada ketidakamanan yang mendalam, seperti seorang pesulap yang terus-menerus ingin membuktikan keajaibannya agar penonton tidak melihat kerapuhan di baliknya. Nafsu megalomania adalah topeng yang dikenakan oleh kerapuhan ini, sebuah upaya putus asa untuk mengisi kekosongan batin dengan ilusi kebesaran eksternal.
Pada akhirnya, "serba kuasa" yang diimpikan oleh nafsu megalomania hanyalah sebuah menara Babel modern. Semakin tinggi kita membangunnya di atas fondasi ego, semakin besar pula potensi keruntuhannya. Kebenaran yang hakiki adalah kerendahan hati, pengakuan atas batasan, dan pemahaman bahwa kekuatan sejati terletak pada kemampuan beradaptasi dan berkolaborasi dengan alam semesta, bukan mendominasinya.
No comments:
Post a Comment