Terkadang kita terpesona dengan apa yang orang - orang wakili. Banyak sekali hal besar yang memicu polarisasi negara besar ini. Kita sering melantunkan sorak-sorai tanpa benar-benar tahu apa yang kita katakan atau mengapa harus mengatakannya.
Sering kali sebagian dari kita hanya menjadi penggemar sebuah partai atau tokoh atau bahkan sebuah agama, bukan penganut prinsip penting yang sebenarnya.
Hampir semua sepakat lagi percaya akan keberadaan Tuhan dan meyakini Dia-lah yang akan menghakimi yang hidup dan yang mati. Semua percaya matahari akan terbit di timur dan terbenam di barat. Dalam waktu tertentu kita juga membaca ayat-ayat suci dan mulai belajar dari kejadian turunnya hingga kisah-kisah para Rasul.
Diantara kita mungkin banyak berpikir tentang iman dan perannya dalam kehidupan ini. Padahal keimanan adalah sesuatu hal yang sulit. Beriman kepada yang tak terlihat serta berkeyakinan kepada sesuatu yang mendorong untuk bertindak melawan naluri yang pertama adalah sesuatu yang tidak mudah.
Sebenarnya tidaklah sulit untuk menjadi orang beragama disini, karena mayoritas orang juga memeluk sebuah kepercayaannya masing-masing. Tetapi kenapa dalam periode terakhir terasa sulit untuk menjalani kehidupan beragama, sesama umat beragama maupun antar umat beragama.
Sebagai orang yang memiliki kepercayaan mungkin akan menghabiskan banyak waktu untuk bertanya apa yang sebenarnya terjadi?
Keyakinan yang kita miliki harusnya tidak dimaksudkan untuk diikuti atau dipatuhi atau ditolak atau ditakuti maupun ditantang keberadaannya. Karena tidak ada paksaan dalam proses menganut sebuah keyakinan.
Mungkin ini adalah argumen yang sudah cukup jelas untuk dijadikan dasar pemahaman. Namun, bisa jadi hanya sedikit orang yang mahir memahami kekuatan itu untuk menampilkan dan menjadi cerminan dari sebuah keyakinan.
No comments:
Post a Comment