BURUNG NASIONAL
Burung nasional yang dicap dalam sepucuk surat jauh lebih terhormat dibandingkan karakter moral yang buruk dalam kehidupan. Tuduhan dan berita-berita palsu terus memupuk pandangan mata kita dibalik ramainya para pemangsa.
Ini hanyalah ayunan pena di atas kertas yang tidak ada hubungannya dengan suatu bangsa dengan rakyatnya. Ini adalah sebuah dinamika, mencuri makanan saudaranya sendiri dan memakan daging yang mati untuk dijadikan konsumsi.
Mereka rutin menyambar orang-orang yang tidak berdaya dan menangguhkan trilyunan hutang kepada bayi manusia. Dipuja sebagai simbol nasional yang mewakili kesederhanaan, kemandirian, dan keberanian namun sering memberi makan ketakutan.
Apakah dalam kondisi ini, kita masih bisa diselamatkan? Mampukah burung nasional mengepakkan sayapnya tanpa dikendalikan?
Berjuta-juta tangan mengangkat ke langit untuk sebuah cita-cita yang heroik di tanah yang mulia meskipun pada kenyataannya pemandangan yang terjadi masih terlihat sama saja. Memang harus benar-benar ada perubahan yang direncanakan dan dapat diterima oleh pemangku secara keseluruhan.
Siapa pun di mana pun dalam posisi bersiap untuk melawan, entah apa nanti yang akan menjadi pemicu agar semua bisa selamat dari tepian jurang. Mungkin terdengar lebih menakutkan ketika situasi yang berjalan terus menekan dan mengganggu berbagai kepentingan. Tetapi, tetaplah dalam kewaspadaan agar terhindar dari kepunahan.
Semoga Tuhan memberikan lebih banyak detail daripada yang mungkin kita inginkan. Karena Dia-lah guru yang tepat untuk mencari jawaban.