IDEOLOGI DUNIA
Pada dasarnya ideologi berasal dari bahasa latin yang terdiri dari dua kata: ideos artinya pemikiran, dan logis artinya logika, ilmu, pengetahuan. Jadi dapat didefinisikan bahwa ideologi merupakan ilmu mengenai keyakinan dan cita-cita. Atau rumusan alam pikiran yang terdapat diberbagai subyek atau kelompok masyarakat yang ada, dijadikan dasar untuk direalisasikannya.
Ideologi merupakan kata ajaib, kenapa
ajaib?
Karena kata Ideologi dapat menciptakan
pemikiran dan semangat hidup diantara manusia, khususnya diatara cendekiawan
atau intelektual dalam suatu masyarakat.
Ideologi dapat dimengerti dalam Ilmu
Sosial sebagai suatu sistem penjelasan tentang eksistensi kelompok
sosial, sejarah dan proyeksinya ke masa depan serta merasionalisasikan
suatu bentuk hubungan kekuasaan.
Pada akhirnya Ideologi yang dianut akan
sangat menentukan bagaimana seseorang atau sekelompok orang memandang sebuah
persoalan dan apa yang harus diperbuat untuk mensikapi persoalan - persoalan. Ideologi
dalam pengertian yang paling dangkal biasanya diartikan sebagai istilah
mengenai sistem nilai, ide, moralitas, interpretasi dunia atau yang lainnya.
Lalu apa tujuan utama dibalik
ideologi?
Ideologi menawarkan perubahan melalui
proses pemikiran normatif. Ideologi adalah sistem pemikiran abstrak (jadi, tidak
hanya sekadar pembentukan ide) yang diterapkan pada masalah publik sehingga
membuat konsep ini menjadi inti dari politik. Secara implisit (tersirat)
setiap pemikiran politik mengikuti sebuah ideologi walaupun tidak diletakkan
sebagai sistem berpikir yang eksplisit. Dari segi logika Ideologi adalah
pemahaman mendasar dan asas setiap peraturan.
Bagaimana ideologi itu bisa lahir?
Kemungkinan yang pertama, ialah
karena diinspirasikan oleh sosok tokoh yang luar biasa, dalam sejarah
bangsanya. Ia hadir membawa sekaligus mampu memberikan inspirasi dan pengaruh
kuat terhadap orang lain secara luas. Gagasan seseorang yang ‘luar biasa’ itu lahir
atas kehendaknya dan didukungan oleh para pengikutnya mengenai cita-cita
masyarakat yang diperjuangkan dalam gerakan politik yang diakui dan dirumuskan
secara sistematis.
Yang kedua yaitu berdasarkan alam
pikiran masyarakat, ideologi yang dirumuskan oleh sejumlah orang yang
berpegaruh dan merepresentasikan kelompok masyarakat kemudian disepakati
sebagai pedoman dalam mengatur kehidupan bermasyarakat dan bernegara, bilaperlu
diciptakanlah mitos - mitos untuk mendapatkan pengakuan legal dan kultural dari
masyarakat sehingga mereka tunduk dan meyakininya.
Yang ketiga, berdasarkan keyakinan
tertentu yang sifatnya universal, ideologi itu lahir dan dibawa oleh seorang
yang diyakini sebagai kehendak Tuhan, dengan pesan untuk melakukan pembebasan dan
memberikan bimbingan dalam mengatur kehidupan yang sebenarnya dan akan ada
konsekuensi moral dikemudian hari apabila melanggarnya. Ideologi ini syarat
dengan pesan moral yang sesuai dengan nurani serta dasar primordial
manusia. Ideologi yang lahir dari suatu keyakinan Iman dan bersifat universal
akan hidup secara permanen tidak mudah goyah dan mati.
Ada tiga dimensi yang perlu dipenuhi oleh suatu ideologi agar tetap mampu mempertahankan relevansinya yaitu
- Dimensi realitas
Dimensi realitas adalah kemampuan ideologi untuk mencerminkan realitas dari nilai-nilai yang hidup dan berkembang dalam masyarakatnya. Karena hanya dari situlah anggota masyarakat akan merasa bahwa ideologi itu memang miliknya.
- Dimensi idealisme
Dimensi idealisme adalah kemampuan dasar ideologi yang terkandung di dalam nilai-nilai dasar ideologi
- Dimensi fleksibilitas
Dimensi ketiga ini menuntut kemampuan
ideologi, bukan saja untuk melandasi dan meneropong perubahan atas pembaruan masyarakat,
tetapi juga sekaligus menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan
Oleh karena itu ideologi merupakan
panduan bagi penganutnya untuk melakukan tindakan-tindakan secara praktis dan
strategis demi mewujudkan kehendak dan cita-cita yang terkandung dalam ideologi
tersebut. Lalu apa sebenarnya fungsi dari ideologi?
Ada beberapa fungsi dari ideologi yaitu
- Fungsi Etis, yaitu sebagai panduan dan sikap serta perilaku kelompok masyarakat dalam kehidupan kenegaraan dan kebangsaan.
- Fungsi Integrasi, yaitu nilai yang menjadi pengikat suatu bangsa atau masyarakat.
- Fungsi Kritis, yaitu sebagai ukuran nilai yang dapat digunakan untuk melakukan kritik terhadap nilai atau keadaan tertentu.
- Fungsi Praxis, yaitu sebagai acuan dalam memecahkan masalah-masalah kongkrit.
- Fungsi Justifikasi, yaitu ideologi sebagai nilai pembenar atas suatu tindakan atau kebijakan tertentu yang dikeluarkan oleh suatu kelompok tertentu.
Kapitalisme
Kapitalisme adalah sistem perekonomian yang menekankan peran
kapital (modal), yakni kekayaan dalam segala jenisnya, termasuk barang-barang
yang digunakan dalam produksi barang lainnya. Dalam pendapat lain menyebutkan
bahwa kapitalisme adalah sebagai sistem sosial yang menyeluruh, lebih dari
sekedar sistem perekonomian namun, juga berkaitan dengan perkembangan
kapitalisme sebagai bagian dari gerakan individualisme.
Dalam pengertian yang sederhana, kapitalisme adalah sebuah
sistem produksi, distribusi, dan pertukaran di mana kekayaan yang terakumulasi,
diinvestasikan kembali oleh pemilik pribadi untuk memperoleh keuntungan. Sistem
ini didisain untuk mendorong ekspansi komersial melewati batas-batas
lokal menuju skala nasional dan internasional dengan pola perdagangan
internasional, di mana pasar berada dan bagaimana memanipulasi pasar untuk
keuntungan mereka.
Ada yang berpendapat bahwa jalan yang terbaik untuk
memperoleh kemakmuran ialah dengan membiarkan individu - individu mengejar
kepentingan-kepentingan mereka sendiri tanpa keterlibatan perusahaan-perusahaan
negara. Fenomena intervensi negara terhadap sistem pasar dan
meningkatnya tanggungjawab pemerintah dalam masalah kesejahteraan sosial dan
ekonomi merupakan indikasi terjadinya transformasi kapitalisme.
Transformasi dilakukan agar kapitalisme dapat menyesuaikan diri dengan berbagai
perubahan ekonomi dan sosial.
Lalu muncul beragam asumsi – asumsi yang beredar tentang kapitalisme di antaranya adalah
- Kebebasan individu
- Kepentingan diri (selfishness)
- Pasar bebas
Dari tiga asumsi tersebut yang
ditekankan adalah kebebasan individu yang merupakan tiang pokok
kapitalisme, karena dengan pengakuan hak alami, individu dapat bebas berpikir,
berkarya dan berproduksi untuk keberlangsungan hidupnya. Pada gilirannya,
pengakuan institusi hak individu memungkinkan individu untuk memenuhi
kepentingan dirinya sendiri.
Dalam perekonomian kapitalis setiap
warga dapat mengatur nasibnya sendiri sesuai dengan kemampuannya. Semua orang
bebas bersaing dalam bisnis untuk memperoleh laba sebesar-besarnya.
Semua orang bebas melakukan kompetisi untuk memenangkan persaingan bebas
dengan berbagai cara.
Mungkin dapat di gambarkan menjadi
Apa yang kita harapkan untuk makan malam, tidaklah datang dari keajaiban, melainkan dari apa yang mereka kejar sebagai kepentingan pribadi. Yang ia hormati dan ia kejar adalah keuntungan bagi dirinya sendiri. Dengan mengejar kepentingannya sendiri, kerap kali akan memajukan kepentingan masyarakat menjadi lebih efektif dibandingkan dengan jika ia sungguh-sungguh bermaksud memajukannya
Dari ilustrasi itu kapitalisme
merupakan sebuah sistem ekonomi yang lebih berorientasi pada pemenuhan
kebutuhan ekonomi secara individu. Meskipun demikian, orientasi individu tetaplah
merupakan tahapan awal bagi kepentingan publik maupun sosial. Kehendak untuk
memadukan kepentingan privat dan publik ini mengandung arti bahwa setiap manusia
yang bersangkutanlah yang mengetahui apa kepentingan mereka yang sesungguhnya.
Oleh sebab itu, dialah yang dapat memenuhi kepentingan dengan sebaik-baiknya.
Secara kronologis dalam tahapan
sejarah perkembangannya: Kapitalisme Awal, Kapitalisme Klasik dan Kapitalisme
Lanjut.
1.
Kapitalisme Awal (1500-1750)
Kapitalisme untuk periode ini masih
mendasarkan pada pemenuhan kebutuhan pokok yang ditandai dengan
kehadiran industri sandang di Inggris sejak abad XIV sampai abad XVIII.
2.
Kapitalisme Klasik (1750-1914)
Pada fase Kapitalisme Klasik terjadi
pergeseran perilaku yaitu para kapitalis yang semula hanya perdagangan publik,
ke wilayah yang mempunyai jangkauan lebih luas yaitu industri. Transformasi
dari dominasi modal perdagangan ke dominasi modal industri yang merupakan ciri
Revolusi Industri di Inggris.
3.
Kapitalisme Lanjut (Pasca 1914)
Kapitalisme lanjut mulai berkembang sejak abad XIX, tepatnya tahun 1914 yang menjadikan Perang Dunia I sebagai momentum utama. Kapitalisme fase lanjut sebagai peristiwa penting ini ditandai paling tidak oleh tiga momentum.
- Pertama, pergeseran dominasi modal dari Eropa ke Amerika.
- Kedua, bangkitnya kesadaran bangsa - bangsa di Asia dan Afrika terhadap kolonialisme Eropa yang kemudian memanifestasikan kesadaran itu dengan perlawanan.
- Ketiga, Revolusi Bolzhevik Rusia yang berhasrat meluluhlantakkan institusi fundamental kapitalisme yang berupa kepemilikan kapital secara individu atas penguasaan sarana produksi, struktur kelas sosial, bentuk pemerintahan dan kemapanan agama. Dari sanalah kemudian muncul ideologi tandingan, yaitu komunisme.
Sosialisme
Sosialisme pada hakekatnya berpangkal pada kepercayaan diri
manusia, melahirkan kepercayaan pula bahwa segala penderitaan dan kemelaratan
yang dihadapi dapat diusahakan pelenyapannya. Penderitaan dan kemelaratan yang
diakibatkan muncul akibat dari pembajakan politik dan ekonomi dimana penguasa
dan pengusaha yang bersemangat liberal dan kapitalnya, memiliki kekuatan penuh
mengatur kebanyakan warga negara, dengan segala keserakahan yang didasarkan
rasionalisme dan individualisme dengan mendorong sebagian orang mencari cara
baru guna pemecahan masalah sosial tanpa harus dilakukan dengan kekerasan.
Setelah melebarnya sayap-sayap ideologi liberalisme dan
kapitalisme, maka dunia telah dipenuhi dengan pragmatisme hidup, sikap
individualistis, konsumeris, hedonisme, materialisme, dan sekulerisme. Ini
menimbulkan masalah sosial sampai pada tingkat unit sosial terkecil, seperti
lemahnya ikatan emosional dalam keluarga, disorientasi, disorganisasi dan pada
skala yang besar timbulnya aliansi sosial sebab jauh dari agama dan kepentingan
sosial dalam kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Maka lahirlah yang
dinamakan faham sosialisme.
Sosialisme dengan demokrasi, memiliki hubungan yang sangat penting, ia menjadi bagian dari kebijakan sosialis. Sosialisme dalam konteks demokrasi memiliki tujuan dengan inti yang sama, yakni untuk lebih mewujudkan demokrasi dengan memperluas penerapan prinsip-prinsip demokrasi dari hal-hal yang bersifat politis sampai pada yang bersifat non-politis. Oleh sebab itu untuk mencapai cita-citanya, sosialis menggunakan cara - cara yang sangat demokratis
- Pertama, sosialisme menolak terminologi proletariat yang menjadi bagian konsep komunisme.
- Kedua, kepemilikan alat-alat produksi oleh negara harus diusahakan secara perlahan-lahan atau secara bertahap.
- Ketiga, kaum sosialis menuntut pendirian umum yang demokratis bahwa pencabutan hak milik warga negara harus melalui proses hukum dan warga negara tersebut harus mendapatkan kompensasi.
- Keempat, kaum sosialis menolak pengendalian kekuasaan oleh sekelompok minoritas yang mengatasnamakan kekuatan revolusioner.
- Kelima, tidak sependapat bahwa dalam demokrasi hanya ada dua pilihan antara liberalis-kapitalis dan komunisme.
Pada dasarnya sosialisme mewarisi tujuan pokok yang sama dari
kapitalisme, yakni melestarikan kesatuan faktor tenaga kerja dan pemilikan. Singkatnya
negara memainkan peranan suatu badan yang berkuasa penuh dalam urusan ekonomi.
Akan tetapi, tatkala ekonomi kapitalis mengalami kemajuan, tanggungjawab
individu dan keluarga dalam urusan kepemilikan alat produksi serta pengaturan
tenaga kerja perlahan-lahan digantikan oleh sistem ekonomi. Dan ketika bentuk
usaha industri tumbuh semakin besar, tanggungjawab tenaga kerja beralih ke
tangan masyarakat, sementara kepemilikan tetap secara perorangan.
Sosialisme memiliki prinsip-prinsip untuk menegakkan suatu pemerintahan dan negara dalam mewujudkan kepentingan rakyat secara keseluruhan. Meliputi
Masalah agama
Dalam pembentukan gerakan sosialis pengaruh agama merupakan yang paling kuat. Menemukan berbagai hal yang berhubungan dengan doktrin keagamaan, sosial dan ekonomi telah membuktikan betapa adanya berbagai ajaran yang dipegangnya.
Idealisme etis dan estetis
Ini menjadi sumber sosialisme bukan suatu program politik dan atau ekonomi, tetapi merupakan pemberontakan melawan kemelaratan, kebosanan, dan kemiskinan hidup dibawah kapitalisme industri.
Empirisme febian dan liberalisme.
Moto awal dari masyarakat fabian adalah
Engkau harus menunggu saat yang tepat; kalau saat yang tepat itu tiba engkau harus melakukan serangan yang dahsyat, sebab jika tidak, penundaan yang engkau lakukan itu sia-sia dan tidak akan membawa hasil.
Dalam hal politik, kehendak suatu
perubahan masyarakat dilakukan secara konstitusional. Perubahan itu jangan
sampai melalui revolusi yang radikal dengan membalikkan struktur politik dengan
cara paksa ataupun dengan kekerasan. Dalam sosialisme juga ada kecenderungan
berorientasi pada negara, masa dan kolektivitas.
Oleh sebab itu sosialisme sebagai
bentuk kekuatan politik, sosial dan ekonomi sangat berpihak kepada tindakan
populis dan untuk rakyatnya, ini dilakukan dengan pemberian kesempatan kerja,
menghapus diskriminasi, memperjuangkan mengenai persamaan hak, memperjuangkan
hak-hak pekerja, kerjasama serta menghapuskan persaingan dan mengatur mekanisme
ekonomi untuk kepentingan seluruh rakyat.
Komunisme
Komunis mulai populer setelah
revolusi di tahun 1830 di Peracis. Suatu gerakan revolusi yang menghendaki
perubahan pemerintahan yang bersifat parlementer dan dihapuskannya raja.
Istilah komunis, awalnya mengandung dua pengertian. Pertama, ada hubungannya
dengan komune suatu satuan dasar bagi wilayah negara yang berpemerintahan
sendiri, dengan negara itu sendiri sebagai federasian komune-komune. Kedua, ia
menunjukkan milik atau kepunyaan bersama. Pada esensinya adalah sebuah cara
berfikir berlandaskan kepada atheisme, yang menjadikan materi sebagai asal
segala-galanya.
Komunisme sebagai anti kapitalisme yang
menggunakan sistem sosialisme sebagai alat kekuasaan, dimana kepemilikan modal
atas individu sangat dibatasi. Prinsip semua adalah milik rakyat dan dikuasai
oleh negara untuk kemakmuran rakyat secara merata. Komunisme sangat membatasi
demokrasi pada rakyatnya, dan karenanya komunisme juga disebut anti
liberalisme. Secara umum komunisme sangat membatasi agama pada rakyatnya, menurutnya
prinsip agama adalah racun yang membatasi rakyat dari berpikir rasional dan
nyata.
Komunisme masa kini menitik beratkan pada empat ide yaitu
- Sekelumit kecil orang hidup dalam kemewahan yang berlimpah, sedangkan kaum pekerja yang teramat banyak jumlahnya bergelimang papa serta sengsara
- Cara untuk merombak ketidakadilan dengan jalan sistem sosialis, yaitu sistem dimana alat produksi dikuasai negara dan bukannya oleh pribadi dan swasta
- Pada umumnya, satu-satunya jalan paling praktis untuk melaksanakan sistem sosialis tersebut adalah melalui revolusi kekerasan
- Dan untuk menjaga kelanggengan sistem sosialis itu diatur oleh kediktatoran partai Komunis dalam jangka waktu yang memadai
Komunisme juga memiliki ciri-ciri inti masyarakat komunis diantaranya
- Penghapusan hak milik pribadi atas alat-alat produksi
- Penghapusan kelas-kelas sosialisme
- Menghilangnya negara dan
- Pengahapusan pembagian kerja
Secara teoritis, pemerintahan komunis
yang didasarkan ideologinya memperlakukan semua negara bagian mereka, rakyat
dan cita-citanya menciptakan masyarakat sama rata-sama rasa. Dalam kenyataannya
kekerasan, penyingkiran lawan-lawan, pembuangan, pengasingan, agitasi
dan propaganda untuk menghancurkan bagi mereka yang tidak sejalan merupakan
tindakan yang biasa dan harus dijalankan dengan cara revolusioner dan radikal.
Dalam sistem perekonomiannya
pemerintah berperan sebagai pengatur seluruh sumber-sumber kegiatan perekonomian.
Setiap orang tidak diperbolehkan memiliki kekayaan pribadi, sehingga nasib
seseorang bisa ditentukan oleh pemerintah. Semua unit bisnis mulai dari yang
kecil hingga yang besar dimiliki oleh pemerintah dengan tujuan pemerataan
ekonomi dan kebersamaan.
Fasisme
Sebab kemunculan fasisme adalah
reaksi terhadap liberalisme dan positivisme yang terlihat dari kecenderungannya
yang ‘anti-intelektualisme’ dan dogmatisme. Fasisme merupakan manifestasi
kekecewaan terhadap kebebasan individu dan kebebasan berfikir. Kemunculannya juga
merupakan reaksi terhadap berbagai kesenjangan, penderitaan berkepanjangan,
rasa ketakutan akan ketiadaan harapan masa depan yang lebih baik. Demokratisasi
misalnya dianggap hanya ilusi dan melahirkan dominasi dan hegemoni struktural
minoritas terhadap mayoritas.
Mussolini dan Hitler merupakan tokoh
fasisme yang fenomenal. Fasisme merupakan sebuah paham politik yang
mengangungkan kekuasaan absolut tanpa demokrasi. Dalam paham ini, nasionalisme
yang sangat fanatik dan juga otoriter sangat menonjol. Pada abad ke-20, fasisme
muncul di Italia dalam bentuk Benito Mussolini. Sementara itu di Jerman, juga
muncul sebuah paham yang masih bisa dihubungkan dengan fasisme, yaitu Nazisme
pimpinan Adolf Hitler. Nazisme berbeda dengan fasisme Italia karena yang
ditekankan tidak hanya nasionalisme saja, tetapi bahkan rasialisme dan rasisme
yang sangat sangat kuat. Saking kuatnya nasionalisme sampai mereka membantai
bangsa-bangsa lain yang dianggap lebih rendah.
Perkembangan fasisme dilatarbelakangi oleh kecenderungan tertentu dalam kepribadian individu-individunya didalam masyarakat.
- Pertama, adanya kecenderungan individu untuk menyesuaikan diri secara terpaksa dengan cita-cita dan praktik-praktik kuno.
- Kedua, munculnya kepribadian yang kaku secara emosional dan kurang memiliki imajinasi intelektual yang luas dan terbuka. Individu yang bersangkutan berpandangan ‘inward looking’ dan menilai sesuatu secara hitam putih.
- Ketiga, setiap individu memiliki watak mementingkan status dan kekuasaan serta pengaruh.
- Keempat, individu tersebut memiliki kecenderungan loyalitas yang kuat pada kelompoknya sendiri. Ia melihat kelompoknya sebagai yang kuat, memiliki kelebihan dan keistimewaan dibandingkan dengan kelompok lainnya. Terkadang individu seperti ini merasa benar sendiri, yang lainnya salah.
- Kelima, ia juga memiliki disiplin dan kepatuhan yang kuat dan cenderung kurang akan kebebasan dan spontanitas dalam hubungan-hubungan kemanusiaan.
Fasisme mempercayai bahwa manusia
secara alamiah telah ditentukan untuk menjadi penguasa (the ruler) dan yang
dikuasai (the ruled). Jadi, ada sebagian manusia yang memiliki kualitas
kemanusiaan superior dan yang lainnya tidak memiliki kualitas itu. Demokrasi,
hanyalan ilusi politik yang tak akan pernah terwujud dalam kenyataan.
Anarkisme
Anarkisme adalah sebuah sistem
sosialis tanpa pemerintahan. Ia dimulai di antara manusia, dan akan
mempertahankan vitalitas dan kreativitasnya selama itu merupakan pergerakan
dari manusia. Penghapusan eksploitasi dan penindasan manusia hanya bisa
dilakukan lewat penghapusan kapitalisme yang rakus dan pemerintahan yang
menindas.
Anarkisme adalah teori politik yang
bertujuan untuk menciptakan masyarakat tanpa hirarkis (baik dalam politik,
ekonomi, maupun sosial). Para Anarkis berusaha mempertahankan bahwa anarki,
ketiadaan aturan-aturan, adalah sebuah format yang dapat diterapkan dalam
sistem sosial dan dapat menciptakan kebebasan individu dan kebersamaan sosial.
Anarkis melihat bahwa tujuan akhir dari kebebasan dan kebersamaan sebagai
sebuah kerjasama yang saling membangun antara satu dengan yang lainnya.
Dalam sejarahnya, para anarkis dalam berbagai gerakannya kerap kali menggunakan kekerasan sebagai metode yang cukup ampuh dalam memperjuangkan ide-idenya.
Terkadang cinta hanya dapat berbicara melalui selongsong senapan yang sangat sarat akan penggunaan kekerasan dalam sebuah metode gerakan.
Penggunaan kekerasan dalam anarkisme
sangat berkaitan erat dengan metode propaganda by the deed, yaitu metode
gerakan dengan menggunakan aksi langsung (perbuatan yang nyata) sebagai jalan
yang ditempuh, yang berarti juga melegalkan pengrusakan, kekerasan, maupun
penyerangan. Namun demikian, tidak sedikit juga dari para anarkis yang tidak sepakat
untuk menjadikan kekerasan sebagai suatu jalan yang harus ditempuh.
Anarkisme berarti bahwa anda harus
bebas. Bahwa tidak ada seorangpun boleh memperbudak anda, merampok, ataupun
memaksa anda. Itu berarti bahwa anda harus bebas untuk melakukan apa yang anda
mau, memiliki kesempatan untuk memilih jenis kehidupan dan hidup didalamnya
tanpa ada yang mengganggu. Memiliki persamaan hak, serta hidup dalam perdamaian
dan harmoni seperti saudara. Yang berarti tidak boleh ada perang, kekerasan,
monopoli, kemiskinan dan penindasan, serta menikmati kesempatan hidup
bersama-sama dalam kesetaraan.
Dari berbagai selisih paham antar
anarkis dalam mendefinisikan suatu ide kekerasan sebagai sebuah metode,
kekerasan tetaplah bukan merupakan suatu ide eksklusif milik anarkisme,
sehingga anarkisme tidak bisa dikonotasikan sebagai kekerasan. Karena
bagaimanapun kekerasan merupakan suatu pola tingkah laku alamiah manusia yang
bisa dilakukan oleh siapa saja dari kalangan apapun.
Anarkisme percaya bahwa negara
mempunyai sisi buruk dalam hal sebagai pemegang monopoli kekuasaan yang
bersifat memaksa. Pembunuhan kepala negara, pemboman atas gedung-gedung milik
negara, dan perbuatan teroris lainnya dibenarkan oleh anarkhisme sebagai cara
untuk menggerakkan massa untuk memberontak. Mikhail Bakunin merupakan seorang
tokoh anarkis yang mempunyai energi revolusi yang dashyat.
Namun, didalam anarkisme sendiri
banyak aliran-aliran pemikiran yang cukup berbeda satu dengan yang lain.
Perbedaan itu terutama dalam hal penekanan dan prioritas pada suatu aspek.
Aliran-aliran dan pemikiran-pemikiran yang berbeda di dalam Anarkisme adalah
suatu bentuk dari berkembangnya ideologi ini berdasarkan perbedaan latar
belakang, peristiwa tertentu dan tempat/lokasi dimana aliran itu berkembang. Dan
puncaknya adalah timbulnya gerakan baru yang juga menjadikan sosialisme Marx
sebagai pandangan hidupnya, yaitu Sindikalisme.